Sehangat matahari dan secerah pagi

Sehangat matahari dan secerah pagi

Kamis, 24 Maret 2011

About Me from quizbox.com

Your view on yourself:
You are down-to-earth and people like you because you are so straightforward. You are an efficient problem solver because you will listen to both sides of an argument before making a decision that usually appeals to both parties.


The type of girlfriend/boyfriend you are looking for:
You like serious, smart and determined people. You don't judge a book by its cover, so good-looking people aren't necessarily your style. This makes you an attractive person in many people's eyes.


Your readiness to commit to a relationship:
You are ready to commit as soon as you meet the right person. And you believe you will pretty much know as soon as you might that person.


The seriousness of your love:
Your have very sensible tactics when approaching the opposite sex. In many ways people find your straightforwardness attractive, so you will find yourself with plenty of dates.


Your views on education
Education is very important in life. You want to study hard and learn as much as you can.


The right job for you:
You're a practical person and will choose a secure job with a steady income. Knowing what you like to do is important. Find a regular job doing just that and you'll be set for life.


How do you view success:
You are confident that you will be successful in your chosen career and nothing will stop you from trying.


What are you most afraid of:
You are afraid of having no one to rely on in times of trouble. You don't ever want to be unable to take care of yourself. Independence is important to you.


Who is your true self:
You like privacy very much because you enjoy spending time with your own thoughts. You like to disappear when you cannot find solutions to your own problems, but you would feel better if you learned to share your thoughts with a person you trust.

Melukis


Melukis kepekatan malam dalam kanvas panjang tak bertepi...

Jangan pernah membenci tiap noda yang tertuang dalam kanvas putih kita...

Jika saja kita mau mengambil segala hikmah lalu beramal...

Insya Allah akan tersedia penghapus segala noda...

Dan berganti dengan warna-warna keindahan....
Karena sesungguhnya noda-noda itupun adalah salah satu cara unik dari Allah untuk mempercantik kanvas panjang kehidupan kita...

Bekasi, 11 Oktober 2010 dalam kegamangan malam memandang dunia

Doa Cinta Sang Imam (Anis Matta)


Ya Allah Engkau tahu
Hati-hati ini telah Berkumpul dalam cinta-Mu
Bertemu dalam taat-Mu
Menyatu menolong dakwah-Mu
Berjanji perjuangkan syariat-Mu
Maka eratkan ikatannya 
Dan abadikan cintanya

Tidak ada penjelasan historis tentang suasana yang melatari Imam Syahid Hasan Al Banna saat menulis potongan doa itu. Ia menyebutnya Wirid Pengikat. Pengikat hati. Hati yang sedang dibangunkan untuk memikul beban kebangkitan umat. Beban mereka berat. Jumlah mereka sedikit. Musuh mereka banyak. Jadi mereka butuh landasan yang kokoh dan pengikat yang kuat. Landasannya adalah iman. Pengikatnya adalah cinta.

Cinta menjalin jiwa-jiwa mereka dalam kelembutan yang menyamankan: maka setiap mereka adalah permadani sutera yang empuk, setiap orang dengan tipenya bisa duduk santai di situ. Cinta mereka selalu mampu menampung semua bentuk perbedaan: ada kebebasan berpendapat tapi tidak ada sikap yang melukai, ada keterbukaan tapi objektivitas tetap di atas segalanya. Cinta melahirkan pertanggungjawaban: setiap mereka selalu bertanya tentang sejauh mana mereka mampu mempertanggungjawabkan sikap mereka di depan Allah?

Tapi cinta juga melahirkan kelembutan: maka perbedaan-perbedaan mereka terkelola dalam etika yang menyamankan jiwa. Karena setiap pembicaraan mereka selalu berujung amal. Beban. Perbedaan diantara mereka tidak akan mengubah situasi mereka, seperti kata Iqbal, sebagai sapu lidi yang diikat cinta untuk membersihkan kehidupan.

Tapi cinta juga memberi mereka energi. Para pemikul beban kebangkitan itu pastilah akan menempuh jalan perjuangan penuh liku dan pendakian. Pada setiap satu jarak waktu dan tempat beban mereka bertambah. Mereka pasti mengalami penuaan dini, seperti kata Rasulullah saw: "Surat Hud dan saudara-saudaranya telah mengubankan rambutku." Kalau bukan dengan energi yang dahsyat, siapakah yang sanggup mendaki gunung sembari memikul beban? Dan cintalah sumbernya.

Energi cinta memicu mereka untuk bergerak dan bertumbuh dalam tempo yang cepat. Tapi ikatan cinta mengatur irama mereka dalam keserasian yang indah. Itu sebabnya mereka kuat. Nyaman. Dan abadi. Jadi biarkan Sang Imam mengumumkan kembali dia cintanya:

Maka eratkan ikatannya. Dan abadikan cintanya?

Wahai Sahabat


Wahai sahabat…
sesungguhnya jalan ini bukan tentang kemenangan yang dicatat dalam papan skor sebuah pertandingan...
Yang berhadiahkan piala emas bertahtakan berlian…
sesungguhnya jalan ini juga bukan  tentang kekuasaan atau sebuah dinasti….
Yang berujung pada eksplorasi dari sebuah eksistensi diri…
juga bukan tentang tanah-tanah tandus yang sedang diperebutkan…
Ataupun perniagaan yang diupayakan…

Tapi ini tentang semua aku….
tentang kamu…
tentang kita semua…

Tak perduli apapun hasilnya….
Sesungguhnya kita telah menang….
Menang atas rasa takut...
menang atas rasa malas...
menang atas egoisme kita...
dan menang atas kontrol diri ditengah apatisme yang menghegemoni lingkungan kita….

Berjuanglah sekuatmu…
Melangkahlah sejauh kau mampu…
Lalu hiduplah dengan sederhana….
Karena makna kata “sederhana” tidaklah sesederhana rangkaian huruf yang menyusunnya..

Bekasi, 27 November 2010 dalam sejuknya subuh di hari itu....
Amiinn....

Minggu, 13 Maret 2011

Bacalah....dan kau akan mengerti....


Iqra...
Kata pertama dari Allah kepada Muhammad SAW....
Singkat..
Padat....
Jelas...
dan lantang...

Sebuah perintah dasar dari awal perubahan....
Sebuah perintah dasar dari awal kehidupan baru...
Sebuah perintah dasar tentang konsep pencarian hakikat hidup...

Bacalah.....
Ya... membaca....

Sebuah hakikat dan ilmu semua bersumber dari membaca...
Dan membaca tidak hanya sekedar melihat rangkaian huruf pada selembar kulit domba yang usang...
Terlalu sempit untuk mendefinisikan sebuah kata BACALAH dengan keterbatasan pemahaman kita...

Dan hari ini aku membaca sekelumit kisah, tentang sisi melankolis pejuang tangguh yang menantang zaman dan peradabannya...
Demi sebuah perubahan yang utuh....
Bukan tentang air mata atau tentang keromantisan malam itu...
Tapi tentang dia yang mampu melihat jernih setelah kelelahan mendera mencapai puncaknya....
Dan dia pun sama seperti kita...
MEMBACA...




"Apakah seharusnya aku berlaku sebaliknya dari yang aku lakukan sekarang ini supaya mereka senang?" tanyaku, menatap tajam wajah Walidah.

"Kalau itu yang menjadi pilihan Mas dahlan, mungkin aku tidak akan pernah mengenal suamiku seperti selama ini," ujar Walidah dengan mata sembab menahan air mata yang mulai menggenang di pojok matanya.

Aku usap tangan Walidah dengan lembut, dan aku menggenggamnya dengan hati-hati agar perasaannya tidak terlalu sedih. "Ada banyak pemuda Kauman ini yang putra kiai, Mas Dahlan. Banyak dari mereka juga berasal dari keluarga berada dan terhormat seperti orang tua kita dulu. Terpandang sebagai keluarga Islam yang taat," Walidah semakin mendekatkan wajahnya ke depan wajahku, sampai air matanya tak bisa lagi ditahan. "Tapi, Muhammad Darwis yang aku kenal dulu adalah seorang yang berbeda dengan pemuda Kauman kebanyakan. Darwis adalah laki-laki yang bisa melihat dan merasakan hal-hal yang tidak bisa dilihat dan dirasakan oleh kebanyakan pemuda Kauman," katanya sambil menjatuhkan kepalanya di dadaku.

Aku usap-usap kepala Walidah yang kini mendadak mendongak menatapku. "Karena itu, aku merasa tidak perlu menjalankan istikharah seperti yang Bapak perintahkan sebelum memutus calon suami, karena tidak sedikitpun kebimbangan dalm hatiku dulu dan sekarang tentang Mas. Tapi aku tetap berhajat dan bermunajat kepada Allah agar Darwis calon suamiku dulu itu diridhai Allah agar menjadi pemimpin umat Islam yang akan membawa kemaslahatan pada umat, dicintai umat, dan memperbaiki hal-hal yang salah yang dilakukan umat selama ini. Aku merasa Allah selalu menjawab doa-doaku, Mas.

Aku tergetar mendengar penuturan Walidah yang baru pertama kalinya dia ucapkan ini. Aku tahu sejak awal bisa merasakan cinta, bahwa Walidah memang benar-benar sangat mencintaiku. Namun saat itu deraan demi deraan yang aku alami di Kauman dan sekitarnya, membuat rasa percaya diriku agak sedikit goyah.

"Aku sendiri tidak tahu apakah yang aku lakukan ini benar atau salah, Bu," jawabku mulai tergugu karena beban perasaan ini terasa semakin berat menekanku. Mataku terasa buram karena ada butirann air yang jatuh dari sana.

"Kalau semua hal kita ketahui dengan pasti kondisinya, kita tidak akan pernah belajar, Mas," katanya sambil menyeka genangan air di sudut mataku. "Dan Yang Mahatahu itu hanya Allah semata, bukan kita sebagai sebagai makhluk yang dhaif, Mas."

"Astaghfirullahal 'adzim," ucapku meminta ampun kepada Allah. "Kamu benar sekali, Bu. Mengapa aku harus menyangka diriku yang paling benar? Astaghfirullahal 'adzim."

Walidah memelukku dengan erat. "Jangan sedih, Kangmas. Bukankah Allah sudah bahwa siapa yang menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong dan meneguhkan kedudukan kita? Yaa ayyuhalladziina aamanu, in tansurullaaha yansurkum, wayusabbit aqdaamakum."

Walidah menciumi pipiku yang sudah basah dengan air mata, dan kini bercampur dengan air matanya. Aku balik mendekap Walidah dengan erat, dan bersyukur Allah mengirimkan untukku seorang istri yang salihah seperti Walidah, tumpuan hati dan batinku yang luar biasa saat aku didera kelelahan pikiran yang sangat berat seperti ini.

Sang Pencerah - Akmal Nasery Basral (Gelombang Tuduhan Kiai Kafir)

Sepenggal kisah penuh makna....
Selamilah hikmah yang mampu kita tangkap dari kisah tersebut....
Bacalah....
Dan kau akan mengerti....


Semoga Allah merahmati segala pembaharu, pelurus, dan penegak syariat Allah di bumi ini tak terkecuali kepada Muhammad Darwis a.k.a K.H. Ahmad Dahlan...
Semoga Allah memberkahi perjuanganmu, inspirasimu, dan segala kelelahan yang engkau pikul demi umat ini...





Jumat, 11 Maret 2011

Sederhana


Aku hanya seseorang yang sederhana...

Yang tidak paham akan cinta hingga mampu mengurai definisi cinta dengan untaian kata yang indah...

Aku hanya seseorang yang sederhana... 

Yang memaknai cinta dengan apa adanya...

Aku hanya seseorang yang sederhana...


Dengan kesederhanaan itu pula aku mengerti bahwa cinta itu terlalu kompleks untuk diurai dengan kata...

Aku hanya seorang yang sederhana...

Yang memahami cinta sebagai kata kerja dan kesungguhan hati diiringi keikhlasan...

Aku hanya seseorang yang sederhana...

Dan dengan segala kesederhanaan ini izinkan aku untuk mencintaimu karena Allah...

Untukmu yang kupilih karena cinta-Nya...

Belajar Nulis....



Sebuah pesan sederhana dari mahasiswa abadi yang senantiasa belajar di universitas kehidupan...


Indahnya hidup ada pada perbedaan antara tingginya harapan dan kemungkinan2 dalam pencapaiannya...

Indahnya hidup ada pada perpaduan Semangat yang menggebu dan kelesuan yang mengekang...

Indahnya hidup ada pada perpaduan kemudahan dan kesulitan...

Indahnya hidup tak lepas dari bagaimana kita menyikapi kelelahan, kekurangan, dan kelesuan kita sebagai jejak2 pembelajaran dalam mencapai kesempurnaan itu sendiri...

Bukan sebagai pemutus harapan....

Bagaimana kita menyikapi kelebihan, semangat, n kemudahan sebagai proses rasa bersyukur kita atas apa yang telah Allah temukan antara harapan dan pencapaian...

Bukan sebagai penyelesai pekerjaan...

Karena hidup senantiasa berputar...

Segala ketidak pastian itulah yang membuat kehidupan begitu indah dan dinamis...

Begitu sempurna layaknya Allah meciptakan malam dengan taburan bintang atau kesempurnaan pagi dengan kelembutan cahaya matahari-Nya...

Dalam kesederhanaan hati ku menikmati hidup....

 SEMANGAT!!!!!!!! n_n