Sehangat matahari dan secerah pagi

Sehangat matahari dan secerah pagi

Sabtu, 23 April 2011

it just my opinion about the life, about me, about all the things and all the stories that was happened around me

Hidup adalah kumpulan cerita, adalah kenangan, adalah harapan, adalah keyakinan, adalah petualangan, adalah beribu wajah kenyataan. Ini bukan tentang aku,kamu,atau kalian. Tapi, tentang KITA.

Manhaj ini tidak salah walau bukan yang terbaik. Sistem pembinaannya pun baik dan
sistematis. Fikrahnya pun luas, kekinian (berkembang merubah zaman) tanpa sedikitpun meninggalkan akarny. Ini murni kelalaian pribadi YRabb. Semoga ku tidak nyaman dalam kondisi diri ini.

Lembutkan...
Lembutkan...
Lembutkan...
Hati ini untuk menerima kebenaran dan kebaikan…

Begitu banyak warna dalam hidup kita (terlalu banyak malah). Namun tak semuanya kita mampu jabarkan maknanya dalam spektrum ruang-ruang akal dan jiwa kita. Karena memang mungkin sebaiknya kita hanya mampu memahami sebagiannya dan tetap menjadi rahasia untuk sebagian lainnya.

Sampaikanlah apa yang menurutmu perlu untuk disampaikan dan simpanlah apa yang menurutmu layak untuk disimpan. Karena tidak semua orang mampu mengerti apa yang kita sampaikan dan karena tidak semua orang dapat memahami apa yg kita simpan.

Menjadi bijak namun tidak menyepelekan, tegas tanpa menghakimi.

Sederhana namun nyata
Best Regards,
Gempar Dwi Pambudi
gempar.dp@blogspot.com

Persepsi

Persepsi bisa dikatakan asumsi akan sebuah nilai, sebuah peristiwa, sebuah pemahaman, dan sebuah apapun itu yang hadir dalam ruang-ruang pemikiran kita ketika mencoba memahami sesuatu hal.

Seperti halnya ide, persepsi adalah anak dari sebuah pemikiran. Uniknya, dari sebuah ide terlahir persepsi atau dari sebuah persepsi maka terlahirlah sebuah ide. Bahkan terkadang bias tentang definisi ide dan persepsi. Namun semua berinduk pada "PEMIKIRAN".

Persepsi lah yang membuat hari ini kita mengenal darwinisme, komunisme, marxisme, yudaisme, Islam liberal, islam radikal, islam moderat, islam konservatif, atau bahkan islam haroki dan isme-isme yang lain. Persepsi pulalah yang membuat feminisme tumbuh sebagai bahan kajian wajib perempuan dunia hari ini.


Persepsi terbentuk tergantung pada status pendidikan , usia, kematangan hidup, pengalaman, ideologi, fikrah, atau apapun yang membentuk kepribadian dan pola berpikir seseorang dalam rentang waktu yang cukup panjang.

Ruang-ruang kemungkinan sebuah persepsi begitu luas seluas daya jangkau pemikiran manusia dalam memahami nilai-nilai yang terjadi di sekitarnya. Keluasan ruang ini pula maka persepsi adalah sumber dari segala potensi konflik yang ada di kehidupan.

Dari persepsi seseorang menyimpulkan sesuatu lalu ia berpendapat dan ketika keegoisan akan akal melanda maka ia akan membenarkan persepsinya dengan segala cara.

Maka sejauh mana persepsi akan membawa kita melangkah??

Cukuplah kita yang tahu akan keluasan ruang langkah yang dilahirkan persepsi kita dengan segala kelemahan dan keterbatasan sumber informasi pembentuk sebuah persepsi.


best regards,
sederhana namun nyata
Gempar Dwi Pambudi
gempar.dp@blogspot.com

Jumat, 15 April 2011

Izinkan Kami Bertutur Untuk Para Pejuang Dakwah Sekolah

Kami dilahirkan dari rahim hangat dakwah sekolah. Diasuh oleh ketulusan para mentor dan murobbi  sekolah membuat kami mampu tegak berdiri menghadapi permasalahan tidak hanya di duina sekolah tapi juga di dunia mahasiswa.

Hingga kini kami bertahan...


Fabi ayyi 'ala I robbikuma tukiadzdziban!!!

***

Dakwah...
Rasanya bisa dikatakan menjadi tempat dimana semua keterbatasan ada, keterbatasan SDM, keterbatasan dana, keterbatasan waktu, bahkan terkadang keterbatasan izin orang tua.
Namun ternyata dakwah mampu mengalirkan keberlimpahan cinta untuk sesama, keberlimpahan inspirasi, dan keberlimpahan yang mencerahkan...

Tak perlu jauh mencari bukti...
Di dekat, bukti itu adalah kami, adalah kalian...
Di tempat yang jauh itu, bukti itu tersebar dari Gaza hingga Papua, torehan peristiwa ajaib yang memukau kehidupan...
Bacalah...
Carilah...
Kelak bukti itu akan membuat kita bersyukur pernah bersentuh dengan dakwah...

Dakwah selalu mencerahkan...
Dan istimewanya, dakwah sekolah selalu mendapat kesempatan pertama untuk mencerahkan manusia...
Itu karena dakwah sekolah berhadapan dengan para manusia belia, para calon pelanjut generasi bangsa yang tulang belulangnya masih kokoh berdiri...
Yang senyumannya masih secerah mentari pagi....


Tak usah menunggu tua untuk melihat perubahan...
Di sekolah yang di"cerahkan"...
Musholla selalu tampak penuh dengan jejalan putih abu di jamaah dhuha...
Kemeja siswa tampak menggembung diisi mushaf...
Tahajjud bersama pun digelar...
Dengungan tilawah dan hafalan menembus telinga yang masih ada setitik keimanan...
Bukan itu saja, belia-belia putih abu istimewa pun terlihat dari kesantunan berbicara, kejujurannya saat ujian, kekokohannya dalam menjaga harga diri, lebaikan akademisnya, kehebatannya membagi waktu dan kebaika-kebaikan lainnya...

Sungguh, keberkahan yang Allah lahirkan dari dakwah sekolah telah mampu mengobati zaman yang telah luka berdarah-darah...
Oleh tawuran pelajar... Oleh pergaulan bebas... Oleh pornografi pelajar...
Oleh akhlak hina pelajar... Oleh kecurangan pelajar... Oleh hedonisme pelajar...


Dakwah sekolah yang digadang-gadang siang malam oleh saya, kamu, kami, kita, kalian, dan ribuan aktivis dakwah sekolah lainnya telah mampu membuat jalinan mimpi indah tentang negeri "baldatun thoyyibatun wa rabbun ghaffur" itu terajut kembali...
Bahwa harapan itu masih ada...
bahwa waktu sela kehadiran azab Allah masih bisa dipanjangkan...

Fabi ayyi 'ala I robbikuma tukadzdziban....

***

Tak mampu kami hidup tanpa dakwah...
Yang telah kami dan kalian ikrarkan...
Telah kami dan kalian buktikan...
Telah kami dan kalian perjuangkan...
Pusaran dakwah yang indah telah membuat kelelahan langkah kita tak lagi bermakna...
Manisnya iman dan ukhuwah telah membuat habisnya uang dan habisnya waktu kita tak lagi punya arti...

Kita percaya bahwa dakwah telah menyirami keimanan manusia...
Dan iman sejak kehadirannya selalu mampu merubah apa saja...
Bahwa iman selalu membawa jutaan cerita ajaib dalam kehidupan...
Bahwa mampu membuat kita bertahan dan lebih berdaya...



Jadi wahai adik...
Tetaplah berjuang, bertahan, dan berpegangan tangan...
Kelak kalian akan saksikan ada dunia baru yang Allah berkahi yang tenteram dan indah...
Yang akan kalian wariskan utnuk manusia-manusia baru yang tak lain adalah anak cucu kalian...

Jadi wahai adik...
Jangan pernah berhenti...
Karena berhenti berarti mati...
Karena berhenti berarti hidup tanpa cahaya...

Wahai adik..
Sunggguh langkah kaki kalian selalu kami doakan...
Agar Allah mudahkan...
Agar Allah sucikan dari kepentingan dunia...
Agar Allah menjaga keberkahannya..

***

Kami juga kalian, dilahirkan dari rahim hangat dakwah sekolah...
Diasuh oleh ketulusan para mentor dan murobbi...
Membuat kami dan kalian mampu tegak berdiri bertarung dengan keangkuhan zaman...

Di hati kita ikrarkan...
Allahu Ghayatuna!!! Karena Allah saja hingga kini kami dan kalian bertahan...

***

M-Care Leaarning Centre
biruhati@gmail.com




Sabtu, 09 April 2011

Hidup Tak Mengenal Siaran Tunda

Setiap potongan waktu adalah momentum. Setiap penggal masa adalah kesempatan emas yang tak boleh disia-siakan. Masing-masing punya fungsi dan karakternya. Hari Kamis ini bukan hari Kamis di minggu kemarin, meski namanya sama. Jumat besok bukan Jumat minggu kemarin. Meski sama-sama Jumat.

Potongan-potongan waktu itu tak semata cukup dipahami sebagai kumpulan detik, menit dan jam. Bukan hanya hitungan berapa lama kita menyelesaikan kerja, menyempatkan tidur, istirahat, berolahraga, beribadah, bercengkrama dengan keluarga, bepergian atau melakukan kegiatan lainnya. Tak sekedar berapa lama kita larut menyelami tulisan-tulisan di kompasiana. Tak cukup hanya itu. Sepotong waktu adalah momentum. Semacam pelontar, yang dapat melemparkan diri ke puncak sukses atau sebaliknya menjungkirbalikkan kita ke jurang kegagalan.

Maka momentum hidup bukan hanya saat orang merayakan ulang tahunnya. Atau saat datang hari raya. Atau saat usianya telah menginjak dewasa. Atau saat baru saja lulus kuliahnya. Atau saat perkawinannya telah telah berusia setengah abad. Ada berjuta momentum. Jauh lebih banyak dari sekedar saat-saat datangnya musim perayaan seperti itu.

Pagi yang menyapa dalam kesegaran udara dan hangatnya sinar mentari adalah momentum. Saat kita memulai hari baru. Adakah ini akan kita isi dengan kebajikan ataukah dengan kekerdilan?

Siang yang terik adalah momentum. Saat kita mendinginkan diri melalui termin pertama ibadah siang (bagi yang beragama islam). Ada jeda untuk mengisi ulang spirit.

Saat petang menjelang adalah momentum. Ketika kita mencoba mengakhiri penat. Bertanya kita pada jiwa, adakah hari ini kita telah berkarya.

Malam yang sunyi adalah momentum, saat kita merunduk dalam diam. Bertanya kita pada batin yang jujur, adakah hari ini telah kita lewati tangga-tangga menuju kebaikan hidup.

Begitulah, dalam kelebat lajunya yang sangat cepat, waktu dan hidup memberi kita momentum, bahkan pada detik-detiknya. Seperti kisah pelari cepat yang hampir mendekati finish, ketika ada sepotong momentum untuk mempercepat laju larinya. Maka sekian detik adalah penentu menuju kemenangan.

Setiap detik sangat berharga. Seberapa besar harganya tergantung kita yang melewatinya. Akan berlalu begitu saja tanpa ada makna, atau kita manfaatkan untuk sebuah karya.

Setiap momentum punya fungsi dan fasenya sendiri. Tidak tergantikan oleh yang lain. Begitulah. Karena hidup memang tak mengenal siaran tunda. Apa yang jatahnya detik ini, berlaku pula hari ini. Tidak mungkin ditunda sampai besok.

Ahmad Zairofi - Hidup Tak Mengenal Tunda

Selasa, 05 April 2011

Tertawa

Menertawakan diri sendiri layaknya manusia bodoh...

Memugar wajah bertopeng jiwa...

Bersembunyi dalam kerapuhan diri...

Menutupi keresahan hati...

Menanti ditepi diselimuti kecemasan yang tak terperi...

Menyimpan harapan untuk berjalan menuju tujuan...

Berbahan kesabaran dan kepenuh pengertian...

Apakah ini cinta??

Ataukah hanya hura-hura berkalung euforia tanpa makna??

Semoga ini cinta...

Dan semoga ini benar adanya...

...aku pada keberkahan pagi dalam pencarian makna sabar sesungguhnya...

Pagi Yang Cerah

Di pagi yang secerah ini…
Terhampar semua bayangan senyum dari orang-orang sekitarku...

Di pagi secerah ini…
Bergetar hati ini mendengar pujian yang terhampar atas diriku…

Di pagi yang secerah ini…
Hatiku menangis menahan malu melihat senyum bangga mereka atas hal-hal yang belum aku lakukan...

Di pagi yang secerah ini…
Terukir senyum palsu d wajahku atas kehormatan yg mereka serahkan untukku...
Di pagi yang secerah ini…
Begitu dalam...
Bahkan sangat dalam…
Hati ini tertunduk malu atas semua kata hebat dan luar biasa atas keberadaanku…

Ya Allah...
Seandainya saja mereka tahu sedikit saja, hanya sedikit saja dari bentangan aib-aibku...

Apakah mereka akan tetap tersenyum bangga dan ada di sampingku??


Bekasi, 16 Okt '10
Dalam jeritan hati yang menolak kemuliaan yang bukan menjadi haknya...

Senin, 04 April 2011

Pesan Indah Nan Sederhana


Sesungguhnya definisi dari sebuah kata 'sederhana' tidak sesederhana rangkaian huruf yang menyusunnya jika kita mau memahaminya secara jujur dan apa adanya...(GDP)


Orang yang beriman selalu punya cara sendiri untuk menata hatinya, meski berlawanan dengan apa yang ia terima dalam kehidupan.saat mendapat musibah, hatinya tegar, selalu mengingat-ingat kelebihan/niat yang diberikan Allah, totalitas kepasrahan menjadi sesuatu yang mengakar tajam dalam hati dan jiwanya.. (Anonim)

"Kehilangan" mengajarkan kita arti memiliki...
"Kesepian" mengajarkan kita arti kebersamaan...
Percayalah...
Dibalik setiap hal yang terjadi, selalu ada hikmah yang bisa kita petik...
Bukankah untuk menguatkan langkah ke depan, terkadang kita harus mundur selangkah ke belakang...
Kesalahan dan kegagalan seharusnya membuat kita lebih kuat, lebih tabah, lebih arif, dan lebih bijak...
Karena itulah harga mati sebuah kedewasaan... (RHS)

Aku berdiri termangu memperhatikan hiruk pikuk khalayak yang mengejar kegemerlapan dan memuja harta sebagai pemeringkat sesama...
Ya Rabb Yang Maha Menjaga, jauhkanlah hatiku dari ketertarikan untuk meniru, jalan yang gelapnya menipu, damaikanlah jiwaku dalam keindahan kasih sayang, kejujuran, dan penghormatan kepada sesama dan alam...
Bebaskanlah aku dari pengejaran yang tidak mendekatkanku kepada-Mu...
Amien... (EAH)

Kutitipkan helai-helai Rabithah pada desir angin...
Kusematkan setangkai kata rindu dalam diamku...
Kumunajatkan segala asa dalam doa...
Semoga Allah selalu menjagamu, menguatkanmu, dan menolongmu dalam setiap perbaikan waktu....
Mukmin yang baik bukanlah yang paling tetap keimanannya...
Tapi mukmin yang baik ialah saat ia jatuh ia kepada Rabbnya.. (LR)

Allah memberikan sebuah ujian berupa penantian dan pengharapan yang dibalut rapih oleh keistiqomahan, tiada maksud lain, yakni demi menuju bentangan yang jauh lebih indah. Karena indah tak bersifat relatif, namun ia jelas dan pasti.Jadi, teruslah berharap dan menanti...
semoga ada kado indah dari-Nya...  (RHS)

Aku Dalam Jengahku

Sajak Suara

Sesungguhnya suara itu tak bisa diredam mulut bisa dibungkam
Namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang 
Dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku

Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
Di sana bersemayam kemerdekaan
Apabila engkau memaksa diam
Aku siapkan untukmu: pemberontakan!

Sesungguhnya suara itu bukan perampok yang ingin merayah hartamu
Ia ingin bicara, mengapa kau kokang senjata
Dan gemetar ketika suara-suara itu menuntut keadilan?

Sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
Ialah yang mengajari aku bertanya
Dan pada akhirnya tidak bisa tidak
Engkau harus menjawabnya
Apabila engkau tetap bertahan
Aku akan memburumu seperti kutukan

Wiji Thukul

Kita memaknai reformasi sebagai pintu gerbang bagi tegaknya demokrasi dan kebebasan....
Demokrasi yang bertujuan untuk kesejahteraan rakyat yang seutuhnya...

Namun kini kita melihat demokrasi dalam guratan-guratan spanduk dan iklan yang tumbuh ketika musim pemilihan tiba...

Demokrasi yang tertuang dalam bilik-bilik bisu yang hanya menghasilkan konflik berkepanjangan untuk kepentingan segelintir pihak yang mungkin hanya menyapa konstituen pada saat 3 jam sebelum pemilihan...

Demokrasi yang menghasilkan otonomi daerah dan berakhir dengan desentralisasi korupsi dan mafia peradilan...

Kini suara keluh kesah itu sampai ditelingaku....

Suara lugu yang hanya menginginkan agar ia dan keluarganya dapat hidup layak dan sejahtera...

Suara lugu yang tak peduli asal muasal kata demokrasi, reformasi, atau apapun itu yang hanya membuat mereka jengah...

Suara lugu yang hanya menginginkan satu kata....

KEBAHAGIAAN....






Minggu, 03 April 2011

Sikap Islam dalam Kebebasan Berpikir


Akal-merdeka ibarat api jang mungkin berbentuk- lampu jang gemerlapan memimpin kita dari gelap-gelita kepada terang-benderang, tapi seringkah mungkin pula ia menjala ber-kobar2, menjiarbakar rumah dan gedung, melitjin-tandaskan apa jang ada...!

Alangkah permainja akal-merdeka ! ! !

Alangkah tjelakanja akal-merdeka ! ! !

Agama datang membangunkan akal dan membangkitkan akal itu serta menggemarkan agar manusia memakai akalnja dengan sebaik2-nja sebagai suatu ni'mat Ilahi jang maha indah.

Agama datang mengalirkan akal menurut aliran jang benar, djangan melantur kesana kemari, merompak pagar dan pematang.

Islam datang bukan melepaskan akal sebagai kita melepaskan kuda ditengah padang, untuk meradjalela disemua lapangan.

Dalam beberapa hal Islam bertindak sebagai supplement dari akal, menjambung kekuatan akal dimana si akal tak dapat mentjapai lebih tinggi lagi. 

Seseorang jang mendakwakan bahwa akal-akal itu bisa mentjapai semua kebenaran, pada hakikatnja, bukanlah sebenar2-nja orang jang telah mempergunakan akalnja dan bukanlah seseorang jang akalrja merdeka dari hawa-nafsu tjongkak dan takebur, tetapi jang terikat oleh salah-satu matjam taklidisme modern jang bernama..., RASIONALISME!!

M. Natsir - Capita Selecta Jilid I (Sikap Islam dalam Kemerdekaan Berpikir. hal. 209-210)