Sesungguhnya suara itu tak bisa diredam mulut bisa dibungkam
Namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
Namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
Dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku
Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
Di sana bersemayam kemerdekaan
Apabila engkau memaksa diam
Aku siapkan untukmu: pemberontakan!
Sesungguhnya suara itu bukan perampok yang ingin merayah hartamu
Ia ingin bicara, mengapa kau kokang senjata
Dan gemetar ketika suara-suara itu menuntut keadilan?
Sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
Ialah yang mengajari aku bertanya
Dan pada akhirnya tidak bisa tidak
Engkau harus menjawabnya
Apabila engkau tetap bertahan
Aku akan memburumu seperti kutukan
Wiji Thukul
Kita memaknai reformasi sebagai pintu gerbang bagi tegaknya demokrasi dan kebebasan....
Demokrasi yang bertujuan untuk kesejahteraan rakyat yang seutuhnya...
Namun kini kita melihat demokrasi dalam guratan-guratan spanduk dan iklan yang tumbuh ketika musim pemilihan tiba...
Demokrasi yang tertuang dalam bilik-bilik bisu yang hanya menghasilkan konflik berkepanjangan untuk kepentingan segelintir pihak yang mungkin hanya menyapa konstituen pada saat 3 jam sebelum pemilihan...
Demokrasi yang menghasilkan otonomi daerah dan berakhir dengan desentralisasi korupsi dan mafia peradilan...
Kini suara keluh kesah itu sampai ditelingaku....
Suara lugu yang hanya menginginkan agar ia dan keluarganya dapat hidup layak dan sejahtera...
Suara lugu yang tak peduli asal muasal kata demokrasi, reformasi, atau apapun itu yang hanya membuat mereka jengah...
Suara lugu yang hanya menginginkan satu kata....
KEBAHAGIAAN....
Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
Di sana bersemayam kemerdekaan
Apabila engkau memaksa diam
Aku siapkan untukmu: pemberontakan!
Sesungguhnya suara itu bukan perampok yang ingin merayah hartamu
Ia ingin bicara, mengapa kau kokang senjata
Dan gemetar ketika suara-suara itu menuntut keadilan?
Sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
Ialah yang mengajari aku bertanya
Dan pada akhirnya tidak bisa tidak
Engkau harus menjawabnya
Apabila engkau tetap bertahan
Aku akan memburumu seperti kutukan
Wiji Thukul
Kita memaknai reformasi sebagai pintu gerbang bagi tegaknya demokrasi dan kebebasan....
Demokrasi yang bertujuan untuk kesejahteraan rakyat yang seutuhnya...
Namun kini kita melihat demokrasi dalam guratan-guratan spanduk dan iklan yang tumbuh ketika musim pemilihan tiba...
Demokrasi yang tertuang dalam bilik-bilik bisu yang hanya menghasilkan konflik berkepanjangan untuk kepentingan segelintir pihak yang mungkin hanya menyapa konstituen pada saat 3 jam sebelum pemilihan...
Demokrasi yang menghasilkan otonomi daerah dan berakhir dengan desentralisasi korupsi dan mafia peradilan...
Kini suara keluh kesah itu sampai ditelingaku....
Suara lugu yang hanya menginginkan agar ia dan keluarganya dapat hidup layak dan sejahtera...
Suara lugu yang tak peduli asal muasal kata demokrasi, reformasi, atau apapun itu yang hanya membuat mereka jengah...
Suara lugu yang hanya menginginkan satu kata....
KEBAHAGIAAN....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar