Sehangat matahari dan secerah pagi

Sehangat matahari dan secerah pagi

Kamis, 19 Mei 2011

Memahami Konsep Kemanusiaan Kita

“Suatu bangunan kepribadian yang utuh adalah bangunan yang memuat visi, misi, jalan hidup, dan nilai-nilai yang seharusnya membentuk paradigma, mentalitas, dan karakter seseorang yang meyakini keberadaannya” (anis matta)

Kepribadian merupakan warna seorang manusia. Kepribadian merupakan cahaya diri yang terlihat oleh orang lain dan merupakan dasar bagaimana orang lain menilai kita. Kepribadian senantiasa terbentuk karena faktor keturunan maupun faktor psikologis seperti kondisi keluarga, lingkungan tempat ia tumbuh dan berkembang.

Berbicara masalah kepribadian berarti kita berbicara tentang konsep memahami diri dalam menentukan pilihan-pilihan dalam hidupnya yang senantiasa dipengaruhi oleh nilai-nilai yang orang tersebut yakini dan tertanam erat dalam pola pikirannya.

Berbicara kepribadian sangat erat kaitannya dengan berbicara masalah kualitas kemanusiaan seorang manusia. Manusia sebagai pengejawantahan kesempurnaan ciptaan Allah dengan segala potensi yang dimilikinya memiliki sebuah nilai dan janji yang sama pada fase awal kehidupannnya. Manusia memang lahir dengan kondisi orang tua yang berbeda, dalam ruang lingkup daerah yang berbeda, ataupun lahir dalam kelimpahan materi yang berbeda pula.

Namun, bukanlah perbedaan hal-hal tersebut yang mempengaruhi kualitas kemanusiaan kita. Kualitas kemanusiaan kita sangat tergantung pada seberapa jelas kemampuan kita memetakan dan mendeskripsikan secara utuh visi, misi, dan tujuan kita dalam hidup ini.

Kualitas manusia bukanlah sesuatu yang bisa dinilai dengan margin atau range angka. Namun, sebuah keniscayaan bahwa setiap manusia memiliki batasan waktu yang berbeda. Memahami keterbatasan waktu sebagai masa yang tersedia bagi seorang manusia dalam memvisualisasikan mimpi-mimpi tersebut juga merupakan salah satu faktor penentu kualitas kemanusiaan seorang manusia.

Anis Matta membagi 3 tangga kehidupan dalam proses pembentukan model manusia muslim. Fase pertama disebut juga fase afiliasi. Pada tahap ini seorang manusia memperbaharui komitmennya terhadap ideologi yang ia yakini sebagai basis identitas yang akan membentuk paradigma, mentalitas, dan karakternya. Pada fase ini manusia berkutat pada 3 hal sederhana. Komitmen terhadap keyakinannya sebagai penentu visi dan misi hidup. Komitmen terhadap bentuk ibadah sebagai pola dan gaya hidup. Dan komitmen terhadap tingkah laku sebagai bentuk sikap kita sehari-hari.

Fase kedua ialah fase partisipatif. Pada fase ini tiap-tiap individu menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari sebuah sub system sederhana dalam proses interaksi antar individu-individu lainnya. Fase ini terjadi setelah kematangan dan kekuatan pribadi lalu melebar ke masyarakat dalam distribusi kerja nyata di tengah-tengah masyarakat. Pada fase ini biasanya manusia berkutat pada 3 hal sederhana selanjutnya. Yaitu komitmen mendukung semua proyek kebaikan dan melawan kerusakan di masyarakat. Lalu komitmen untuk menjadi faktor pemberi atau pembawa manfaat dalam masyarakat. Lalu yang terakhir berkomitmen menjadi perekat masyarakat dan pencegah disintegrasi sosial.

Fase akhir dalam proses ini adalah fase kontribusi. Dimana pada fase ini tiap-tiap individu semakin mengkhususkan diri dalam memberikan sumbangsih pada lingkungan sekitar sesuai dengan kapasitas dan keahlian yang dimiliki. Fase ini dimana meningkatkan efisiensi dan efektivitas hidup. Menajamkan peran dan fungsinya di masyrakat dengan amal-amal unggulan.
Semua fase tersebut bukanlah saling menihilkan satu sama lain. Artinya dalam proses perpindahan tiap fase bukan berarti kita berhenti melakukan atau berhenti berproses di fase pertama atau pun fase kedua. Semua berjalan beriringan dan saling menopang dalam proses penyempurnaan kualitas kemanusiaan kita.

Sebuah kesimpulan utama dapat kita ambil dari beberapa hal tersebut. Menjadi manusia adalah sebuah karunia. Tapi, kualitas kemanusiaan kita itu, ada pada sebatas dan sejauh mana usaha kita dalam memfungsikan karunia tersebut.

“Mereka mungkin tidak terkenal pada saat-saat biasa saja, tapi ketika keadaan semakin mendesak dan membutuhkan, mereka ada di barisan terdepan dan mereka tak pernah mengingkari janji-janji mereka”


Best Regards,
Gempar Dwi Pambudi
gempardp@blogspot.com
gempar.dp@gmail.com
dwimpank@yahoo.co.id
@mas_mpank

Tidak ada komentar:

Posting Komentar