“Sungguh, kami menciptakan segala sesuatu sesuai dengan ukuran”
(Q.S Al – Qomar: 49)
(Q.S Al – Qomar: 49)
Sejenak kita bertafakur memikirkan makna dari ayat yang singkat ini. Sebuah ayat yang menjelaskan tentang hakikat atau arti dari segala bentuk keterbatasan ataupun kelebihan yang pada diri kita saat ini.
Definisi “menciptakan segala sesuatu” dapat juga berarti “merekayasa sesuatu” bukan berarti hanya yang berbentuk fisik, namun bisa juga yang berbentuk non fisik seperti kejadian atau realitas yang Allah ciptakan di dunia ini. Lalu kata “sesuai dengan ukuran” adalah batasan atau kapasitas yang telah Allah tentukan dengan segala ketelitian dalam proses penciptaan-Nya.
Ada beberapa semangat yang ingin Allah ajarkan kepada kita melalui ayat ini. Sebuah ketersadaran kita tentang kapasitas diri kita, tentang memaknai apa yang kita punya, tentang menyikapi apa yang orang lain punya, dan tentang melihat segala sesuatu secara adil.
Ya, melihat segala sesuatu secara adil atau yang saat ini kita kenal dengan sudut pandang objektif. Sebuah hal yang saat ini sering kali kita lupakan dalam kehidupan kita. Sebuah sudut pandang dalam memaknai fenomena-fenomena kehidupan dengan bijaksana dan bersahaja.
Hari ini kita senantiasa terjebak pada realitas yang tampak pada permukaan saja. Kita dengan mudah menjustifikasi sebuah permasalahan dengan hanya melihat sebuah perkara dari sisi terluar, yang diperkuat oleh kemalasan kita dalam berpikir, dan disempurnakan oleh kebencian kita terhadap efek yang ditimbulkan oleh perkara-perkara tersebut.
Ada semangat yang hilang di sini. Sebuah semangat yang Allah dan Rasul-Nya telah ajarkan dengan kisah-kisah kelembutan dan ketauladanan dalam kehidupan beliau. Semangat yang membuat Islam begitu istimewa. Semangat yang membuat Rasulullah menolak keinginan jibril untuk membinasakan kaum Thaif ketika Rasulullah dianiaya ketika berdakwah di sana. Semangat yang dapat melembutkan pria dengan watak sekeras Umar ketika menjadi khalifah. Semangat yang dapat membuat kaum anshar menerima kaum muhajirin sebagai saudaranya. Semangat yang menyatukan hati-hati kita, yang meyakini bahwa tidak ada kemuliaan yang lebih tinggi diantara mukmin kecuali dalam takwanya.
Semangat itu adalah semangat penghargaan. Semangat berapresiasi terhadap hal-hal yang terjadi pada diri kita, orang-orang di sekitar kita, ataupun lingkungan di sekitar kita. Apresiasi bukanlah sebuah hadiah atau penghargaan semata terhadapa apa yang terjadi disekitar kita yang sering kita artikan saat ini. Apresiasi juga dapat berbentuk konsep bersyukur, konsep memahami kapasitas diri, dan konsep memaksimalkan segala potensi diri.
Semangat berapresiasi berpijak pada prasangka baik. Selanjutnya adalah penghargaan, lalu sesudahnya adalah kerelaan untuk memuji, dan berterima kasih. Sesudah itu adalah kemampuan berbalas budi.
Permasalahan utamanya adalah bukan pada pemahaman terhadap apa itu apresiasi atau hal-hal apa saja yang pantas untuk diapresiasi. Namun sering kali kita terjebak pada kondisi-kondisi yang membuat kita salah dalam mengapresiasi sesuatu. Menghargai sesuatu yang tampak indah mungkin jauh lebih mudah, meskipun banyak yang indah namun tidak sesuai dengan apa adanya. Sedangkan menghargai yang tampak apa adanya seringkali kita sulit memahaminya.
Orang-orang yang berhati dangkal belajar menghargai ketika telah kehilangan hal-hal yang berharga bagi dirinya. Orang-orang yang senantiasa memahami makna dengan dalam, belajar menghargai dengan terus menambahkan ke dalam daftar kesadarannya alasan-alasan baru untuk dapat terus menghargai.
Best Regards,
"Hidup hanyalah sebuah kumpulan interaksi. Saat-saat kita kita saling memantulkan penampakan lahiriyah. Antara kita dengan orang-orang di sekitar kita. antar kita dan benda-benda di sekitar kita. lalu di dasar batin kita harus mencari tafsir atas semua yang tampak. Di situ pula letak ketertipuan kita. Di situ pula, tempat kita gagal atau sukses menghargai. Terlebih lagi yang tampak apa adanya.
Setiap individu memiliki tafsirnya sendiri tentang arti dari semangat saling menghargai. Akan tetapi, harus kita akui masih banyak dari kita yang kurang dalam membudayakan semangat ini dalam bentuk interaksi kita dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai sebuah bentuk komunikasi dalam banyaknya perbedaan yang hari ini sering kali membuat kita tidak mampu berpikir objektif apalagi konstruktif. Sebagai sebuah bentuk bahasa kasih sayang dalam bingkai kesederhanaan dan kebersahajaan."
Gempar Dwi Pambudi
gempardp@blogspot.com
gempar.dp@gmail.com
dwimpank@yahoo.co.id
@mas_mpank
Tidak ada komentar:
Posting Komentar